di Dinding Ari Gunung Galunggung
BY RONI ROMDONI
| “ Bagaikan menemukan ‘surga yang tersembunyi’ di tengah hutan dengan kolam pribadi”
Mandalagiri, 28/06 – Sehari sebelum umat muslim menunaikan ibadah puasa, kami diundang untuk mengikuti munggahan atau makan – makan bersama perangkat dan warga Dusun Sukatani. Setelah sarapan dan mandi, kami berangkat bersama ke rumah Kepala Dusun Sukatani, Bapak Kusnandar. Setibanya kami disana, ternyata Bapak Kusnandar dan perangkat dusun lainnya kemudian masih mengajak kami berjalan mendaki ke utara desa, melewati perkebunan, hutan dan kandang-kandang ternak milik warga. Namun, perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan selama 2 jam terbayar saat kami tiba di lokasi munggahan, di suatu tengah perkebunan sayuran di ketinggian sekitar 2500 mdpl.
Sebuah meja kayu panjang dengan 3 baris kayu yang mengitarinya menyambut kaki kami yang lemas. Tak jauh dari sana, ada sebuah saung berdinding kayu yang digunakan untuk menyimpan kayu dan menjadi tempat istirahat para petani dan peternak. Disana telah ada beberapa pria separuh baya dan seorang ibu petani yang sedang mengolah ikan segar untuk dibakar. Di samping saung, ada tumpukan kayu bakar yang telah menyala dan sebuah jerigen besar yang menampung air hujan. Sungguh, suasana yang sangat jarang kami dapatkan di daerah kami kuliah. Lalu saat kami megitari saung tersebut, di belakangnya kami mendapati perkebunan sayur mayur yang berbatasan langsung dengan jurang dan hutan.
Tanpa terasa, beberapa lama kami berfoto dan mengobrol, makanan pun siap dihidangkan. Ada nasi liwet, sayur kangkung, ikan bakar dan ikan goreng, ikan asin dan sambal. Lembaran daun pisang dan potongan batang bambu menjadi piring dan gelas untuk munggahan kami hari itu. Sungguh, pengalaman makan yang sangat berharga, ngeliwet di tengah hutan dan kebun di punggungan Gunung Galunggung.
Setelah kenyang, ada satu ritual unik yang biasa dilakukan oleh warga desa setelah makan di kawasan itu, yaitu jongkok. Ya, jongkok walaupun sekedar beberapa detik. Menurut tradisinya, kebiasaan itu dilakukan agar kita terhindar dari hal – hal mistis yang tidak diinginkan. Kami pun menuruti instruksi tersebut dengan setengah bingung dan heran.
Lalu kami diajak ke sebuah tempat dengan air terjun yang bernama Batu Ngampar. Awalnya kami diiming-imingi waktu perjalanan yang singkat, yaitu sekitar 30 menit dan area wisata dengan saung sebagai tempat shalat. Namun kenyataan berkata lain. Kami disuguhi perjalanan yang luar biasa tidak terduga dan tidak akan terlupakan.
Berangkat pukul 13.00, 16 orang dari kelompok kami berjalan bersama sekitar 6 warga dan perangkat Dusun Sukatani beserta Juru Kunci Gunung Galunggung. Setengah jam pertama kami menyusuri jalan setapak di tepian perkebunan sayur. Lalu setelah itu, jalan yang kami lalui berubah menjadi semak yang tinggi dan berduri dan berbatasan langsung dengan jurang. Kelamaan, jalan setapak mulai hilang dan berubah menjadi hutan yang lebat dan gelap. Bersama juru kunci Gunung Galunggung, kami membuka jalur pendakian dinding ari Gunung Galunggung yang telah diutupi oleh semak belukar dan perkebunan yang tak terurus.
Tanjakan yang tajam, turunan yang curam, pijakan yang licin dan dahan – dahan pohon yang rapuh telah kami cicipi dalam perjalanan ini. Kami yang sebagian besar tidak memiliki dasar hiking sertatidak membawa peralatan mendaki yang memadai ; sama-sama saling membantu menerobos halangan yang ada demi mencapai Batu Ngampar. Walaupun sangat lelah dan hampir patah semangat, ini adalah momen pertama kami dapat melihat pemandangan desa dari ketinggian yang sangat indah dan suasana hutan yang sejuk dan rindang; dan kami sangat menikmati itu semua.
Setelah mengalahkan segala keterbatasan fisik dan rintangan alam yang ada, akhirnya pukul 15.30 kami tiba di sebuah sungai dengan batuan yang mengampar seperti tidak terputus dari atas hingga bawah. Secara geologi, batuan ini asalnya merupakan lava andesitik, hasil keluarnya magma dari perut Gunung Galunggung. Lava yang masih bersifat kental mengalir di sepanjang lereng gunung dan membentuk permukaan yang bergelombang seperti yang dapat dilihat sekarang ini. Setelah membeku, lava tersebut terlitifikasi menjadi batu dan puluhan atau mungkin bahkan ratusan tahun kemudian menjadi daerah aliran sungai yang mengalirkan air dari hulu sungai di puncak gunung Galunggung ke desa – desa di kaki gunung Galunggung.
Saat menginjakkan kaki di Batu Ngampar, kami harus sangat berhati-hati karena batu yang licin dan menurun membuat daerah tersebut sangat rawan jatuh. Karena permukaan batuan yang bergelombang dan tidak rata, membuat cekungan-cekungan yang terisi air membentuk kolam – kolam. Batu yang licin dengan aliran air di lekukan – lekukannya pun, spontan menjadi wahana seluncur kami. Berseluncur di batuan yang bermuara di kolam, kami pun semakin betah berada di tempat yang masih terasa sangat ‘perawan’ dan belum terjamah manusia itu.
Lebih dari setengah jam lamanya kami berfoto, berendam di kolam - yang katanya bisa mengabulkan permohonan – sambil membaca doa dan bermain air dengan ceria. Bagaikan menemukan ‘surga yang tersembunyi’ di tengah hutan dengan kolam pribadi. Daerah tersebut konon memiliki sejarah dan aura yang mistis, khas seperti situs – situs air terjun yang tersembunyi pada umumnya.
Sampai akhirnya pukul 16.10 kami memutuskan untuk kembali ke dusun. Dengan semangat dan sisa tenaga yang ada, kami berjuang menyusuri jalan yang kami pijak saat berangkat. Kami berusaha berjalan secepat mungkin agar kami dapat tiba di dusun sebelum gelap. Hingga akhirnya, pukul 18.00 kami tiba kembali di rumah Bapak Kusnandar dan disuguhi keripik dan air teh untuk mengisi perut kami yang kosong.
Sungguh, perjalanan yang tidak pernah direncanakan dan diduga sebelumnya kini telah menjadi pengalaman yang tidak akan kami lupakan. Hari yang bersejarah bagi kami yang telah mengajarkan bahwa jika berjuang bersama melawan keterbatasan, apa yang tampak mustahil akan menjadi kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar